Renungan Harian
Selasa, 24 Mei 2016

Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?
2 Korintus 6:14

Keluarga adalah wadah dan wujud ikatan cinta kasih. Sejak manusia pertama, Adam dan Hawa, diciptakan, Tuhan telah mengamanatkan supaya “beranak-cucu dan berkembang biak memenuhi bumi.” Cinta kasih telah Tuhan tanamkan di lubuk hati manusia itu dalam wujud dorongan dan daya tarik seksual. Bersama dengan itu pula Tuhan sudah melengkapi menyangkut seksualitas dalam benak dan diri manusia, serta nilai-nilai sebagai norma moralitas. Yang pasti semuanya itu agar manusia itu dapat memancarkan kemuliaan Allah di dalam dirinya selaku mahkota ciptaan Allah.

Karena hakekat Allah itu adalah kudus, maka cinta kasih yang terwujud dalam ikatan keluarga itu pun tentunya juga kudus. Di dalam keluarga sedemikianlah anak-anak yang diberikan Allah dalam keluarga itu menjadi anak-anak Allah yang kudus. Karena itu keluarga yang terdiri dari pasangan suami-istri juga dengan anak-anak yang dilahirkan dalam keluarga itu adalah kudus. Pasangan kudus yang dimaksudkan Allah adalah laki-laki dan perempuan yang takut akan Allah, yakni yang “seiman” sebagaimana nasihat firman Tuhan dalam Alkitab.

Hanya pernikahan pasangan yang sedemikianlah yang kudus dan dikehendaki Allah. Atas dasar pernikahan itulah dibangun Keluarga Kudus yakni rumah tangga anak-anak Tuhan. Di dalam Keluarga yang kudus itulah Tuhan Allah hadir. Di luar dan selain itu, bukan rumah tangga anak Tuhan dan bukan keluarga kudus yang dikehendaki Tuhan. Bagaimana mungkin Tuhan mau hadir dalam keluarga yang tidak kudus? Sebab Allah kita adalah Allah yang Mahakudus.

Amin!



Beritakan Kabar Baik

              

              


Komentar