Renungan Harian
Selasa, 21 Juni 2016

supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.
Kisah Para Rasul 17:27-28

Yesus Kristus adalah Tuhan. Dia adalah Allah yang menjadi manusia. Allah yang tidak kelihatan (absencia) dan jauh (transenden) menjadi manusia yang kelihatan (presencia), hadir (immanen) dan dekat. Dia yang transenden tanpa batas menjadi immanen memenuhi semuanya. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Allah telah menyatakan diri sebagai Sang Damai dan Penyelamat, supaya tidak lagi ada manusia, siapa pun dia, yang hidup dalam permusuhan dengan dan jauh dari Allah sehingga berakhir pada kesia-siaan atau kebinasaan.

Supaya setiap orang beroleh keselamatan dan hidup kekal, boleh menjadi dekat dan bersahabat dengan Allah. Karena itulah Yesus datang menjadi manusia. Di dalam dan oleh Yesus Kristus kita menjadi anak-anak Allah, pewaris hidup kekal bersama-sama dengan Allah di dalam sorga.

Itu adalah inti penjelasan Paulus di depan sidang Areopagus di hadapan para ahli filsafat di kota Athena. Orang-orang Athena memberikan persembahan kepada patung dewa-dewa yang begitu banyaknya. Namun ada sebuah tempat yang tidak ada patungnya. Itulah posisi Yesus Kristus, “Alla yang tidak dikenal” yang telah menjadi manusia. Dia tidak membutuhkan makanan persembahan seperti dewa-dewa. Sebaliknya Dia sendiri telah memberikan diri-Nya sebagai persembahan kurban bagi keselamatan umat manusia, supaya setiap orang boleh diperdamaikan dengan Allah dan beroleh hidup yang kekal. Oleh Dia dan di dalam Dia, kita menjadi dekat, bahkan telah menjadi “keturunan” anak-anak dan keluarga Allah.

Amin!



Beritakan Kabar Baik

              

              


Komentar